Aku merindukan dingin ini. Hanya satu kenangan yang kumiliki dibalik tetes hujan ini, namun sejuta rasanya.
Waktu itu sudah lama sekali berlalu, dan sekarang aku benar-benar merindukannya. Ah. Surabaya. Sebentar lagi aku mungkin akan bertemu dengannya. Mungkin tidak. Seakan takdir selalu mengaduk-aduk aliran hidupku, mengacak-acak garis hidupku dengannya. Begitu jarang kami bertemu, entah salahku, ataukah salah dia? Semakin dekat dengan Surabaya, hatiku semakin berdegup kencang. Aku mencoba tidur saat awal-awal perjalanan kereta tadi, berharap agar saat tiba di Surabaya nanti aku punya cukup energi untuk melepas semua kangen ini ke semua orang di kota Buaya itu. Ya. Melepas rinduku yang paling dalam.
Kenyataannya, tidurku malah semakin membuatku merasa lelah. Entah karena rasa gelisah yang menghantui saat jarak kereta ini dan tujuannya semakin dekat, atau memang kereta kelas ekonomi ini berguncang lebih hebat dari biasanya? Aku tak tahu. Pikiranku selalu melayang ke dirinya. Bagaimanakah dia saat ini? Semakin cantik? Semakin putih? Atau kulitnya malah semakin gelap karena kegiatan OSPEK? Apa dia pernah merindukanku? Terlepas dari sekedar chatting atau sms, yang mungkin tidak bisa disebut "sekedar" karena hal itu tiap hari kami lakukan. Aku benar-benar penasaran. Aku merindukannya. Merindukan wajahnya yang bukanlah sekedar foto di Friendster, atau hanya sekedar foto yang dipajang di messengernya.
Namun, memikirkan itu semua malah membuatku terlelap.
Ketika aku terbangun, kereta sudah mendekati stasiun Gubeng. Aku mengecek inbox, ayahku telah tiba di stasiun untuk menjemputku. Saatnya mengumpulkan semua barangku, sambil mengecek ranselku: masih amankah kotak itu?
(to be continued)
Kamis, 30 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar