Senin, 03 November 2008

Rindu Hujan: Apakah pria punya perasaan?

"Aduh, bebeknya kepanasan!"

"Hehehehe. Rancu tahu. Sini sini aku cuilin."

"Oh, makasih, Mas. Tangannya steril, kan?"

"Kurang ajar. Higienis kek gini masih diragukan. Fyuuuuh fyuuuh..... panas juga ni."

"Yah, ragu laaaah. Kamunya diem terus sih, mana aku tahu kalo udah cuci tangan, Itu udah gosok gigi belum? Niupin makananku ntar malah keracunan mau tanggung jawab?" si gadis tersenyum simpul...

"Udah nih."

"Makasih, Mas."

"Yuuuk."

Namun selalu ada kata yang tidak sempat terucap dalam perbincangan sehari-hari mereka. Selalu saja masalah trivial, selalu saja tidak penting. Justru hal-hal yang penting tidak pernah dibicarakan, membuat hati terasa sesak dipenuhi gumpalan asap-asap bertuliskan beragam pertanyaaan. Pertanyaan yang akan lama sekali baru terjawab. Lama sekali. Namun ada satu pertanyaan yang membuatku lebih sulit menahan sesak ini: Apakah dia punya pertanyaan yang sama denganku?

Aku bahkan telah lupa awal perkenalan ini. Dia tiba-tiba saja muncul di hadapanku, memberikan tumpuan ketika aku sedang susah, menopang bila aku terjatuh, menyemangati aku yang terkadang sudah begitu lelah dengan kehidupanku, memberikan perhatian ketika pacarku bahkan sama sekali tidak pernah mempedulikanku. Dia, entahlah, kurasa tidak ada yang salah dengan semuanya itu. Kecuali satu pertanyaan: Mengapa dia melakukannya? Apakah aku menarik baginya? Dasar semua pertanyaan ini: Mengapa kami bisa dekat?

"Cepet banget habisnya, Mas?"

"Hooo iya, gak pake lama."

"Makan kok kayak pake sedotan gitu, masa gak dikunyah, Mas?"

"Lha kamu kebanyakan dikunyah padahal udah dicuilin. Apa mau disuapin biar cepet?"

"Aku gak habis. Buat kamu aja, Mas."

"Hooo... tenkyu tenkyu. Nah, Sa? Merem sebentar."

"Hah? Buat apa, Mas?"

"Merem bentar barang 10 detik, ntar piringnya tak sulap jadi bersih."

"Halah! Ayo, Mas. Tar lagi hujan ini. Udah gledek-gledek gitu."

"Makanya merem."

"Gak penting, Mas!"

"Ini gak pulang lo."

"AYO CEPETAN, MAS! Eh."

Aku menyadari suaraku barusan terlampau keras. Tanpa sadar banyak mata telah lama menatap kami. Ah. Ingin ku berteriak pada mereka, aku ingin cepat pulang karena dada ini semakin sesak memikirkan situasi saat ini tak seharusnya terjadi padaku.

"Marissa, siapa yang bayar? Aku atau kamu?" Suaranya memecah lamunan.

"Sudah habis lagi, Mas? Astaga..."


(to be continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar