Pada tahun 2014, Blackberry memutuskan bahwa BBM bukan hanya milik ponsel Blackberry, namun juga Android dan iPhone. Dan seluruh dunia gempar. Ponsel Blackberry dibuang demi sebuah Android.
Kenyataannya, tidak ada yang paham betul bahwa kemenangan Android bukanlah sekadar keberhasilan mengambil pasar OS ponsel terbesar saat ini. Tapi sebagai bukti bahwa Linux bisa user friendly, jauh dari stereotyping beberapa tahun silam yang menganggap Linux hanyalah untuk kalangan geek.
Tapi itu hanya sebatas mobile.
Bagaimana dengan Desktop?
Masih tetap untuk kaum geek. Tapi halaman ini hanya mungkin dikunjungi oleh kaum geek yang ingin mengetahui Linux lebih jauh. Dan VirtualBox sebagai solusi mereka yang ingin mengetahui seluk beluk Linux tanpa mengorbankan OS utama mereka: Windows. Let us begin.
1. Pastikan support VT-X / AMD-V pada Laptop/PC anda
Satu hal yang perlu diklarifikasi disini: OS anda tak berhubungan dengan versi Guest OS yang akan anda install. Yang berhubungan, sebenarnya, adalah CPU anda punya opsi VT-X (untuk Intel) atau AMD-V (untuk AMD). Sebagai contoh, saya menggunakan Asus Transformer T100TA, dan menggunakan OS Ubuntu Server 64-bit pada VirtualBox nya.
Teliti sebelum membeli (atau meng-install bila anda sudah terlanjur membeli), dan cek daftar processor anda di link berikut:
- Intel : http://ark.intel.com/Products/VirtualizationTechnology
- AMD : http://support.amd.com/en-us/kb-articles/Pages/GPU120AMDRVICPUsHyperVWin8.aspx
Bila processor anda sudah support teknologi virtualisasi, aktifkan di BIOS anda. Biasanya secara default opsi ini tidak diaktifkan.
2. Download dan Install VirtualBox
Link di https://www.virtualbox.org/wiki/Downloads. You know the drill.
3. Download Ubuntu 64-bit
Link di http://www.ubuntu.com/download/desktop. Lebih baik download melalui torrent juga agar bisa di resume bila download terputus sewaktu-waktu, link nya di http://www.ubuntu.com/download/alternative-downloads.
Jangan khawatir, torrent dari situs ubuntu tidak akan menguras bandwidth anda, karena nyaris tak ada upload. Rata-rata seeder adalah server Canonical. Speed juga lebih tinggi.
Pada contoh di atas, LTS berarti "Long Term Support" dan sebaiknya anda memilih ini agar update ubuntu di dapat terus menerima security patch hingga 5 tahun ke depan.
4. Install Ubuntu
- Jalankan VirtuaBox.
- New > Name : Ubuntu (64-bit) > Type : Ubuntu (64-bit). Biasanya begitu memberi nama "Ubuntu 64 bit" VirtualBox akan langsung mendeteksinya dan menyesuaikan pilihan. Klik Next.
- Setting Memory Size sesuai kebutuhan. Sebaiknya minimal 512 MB, dan rekomendasi untuk Ubuntu Server adalah 1 GB. Next.
- Create a virtual hard disk now > Create > VDI (VirtualBox Disk Image) > Dynamically Alocated. Minimum adalah 8 GB. Rekomendasi 20 GB.
- Klik kanan VirtualBox yang telah dibuat, Settings > Storage > Controller: Ide > Empty > Klik gambar CD > Choose Virtual Optical Disk File > Pilih ISO yang telah didownload > OK
- Start VirtualBox Ubuntu anda.
Dan dari sini ikuti instruksi yang tersedia. Jangan khawatir melakukan kesalahan, karena anda bisa install ulang OS anda kapan saja dengan VirtualBox. Instalasi juga tidak begitu lama, hanya berkisar 15 menit untuk OS Linux seperti Ubuntu (bila tidak melakukan update via internet).
5. Kontrol VirtualBox
Untuk mengontrol VirtualBox, anda harus menekan tombol Host Key + Kombinasi. Secara default, Host Key menggunakan tombol RCtrl (Tombol Ctrl sisi kanan). Contoh kombinasi yang paling sering digunakan:
- Host + F untuk fullscreen/windowed mode
- Host + C untuk scaled mode
- Host + H sebagai tombol Shutdown.
- Host + R sebagai tombol Restart.
Happy learning!!
Keren, tutorial kek gini ni yg gw demen, komplit. Thanks bro
BalasHapus