Rabu, 19 November 2008

Perasaan atau Logika.

Untuk kedua kalinya terkunci lagi. Peraturan kampusku (sebenarnya) memastikan tidak ada siswa yang terlambat saat mengikuti kelas ataupun praktikum. Kata "sebenarnya" berarti hanya jika peraturan itu benar-benar diterapkan secara konsisten untuk semua karyawan, mahasiswa, dosen, bahkan petugas laboratorium. Tapi itulah tujuan kata "sebenarnya" dicantumkan: tidak ada manusia yang benar-benar mengerti apa filosofi dibalik peraturan itu.

Ketika hari ini terlambat masuk praktikum, aku (seperti biasa) menggunakan berbagai alasan untuk masuk dan tetap mengikuti praktikum, yang selalu gagal. Sang pengajar (yang mungkin masih lebih muda dari Andri, temanku sekelas, yang berarti hanya berjarak 2-3 tahun lebih tua dariku), mengatakan begini: "Kalau saya membiarkan kamu masuk bagaimana dengan teman-teman yang lain? Nanti seakan-akan kamu saya istimewakan."

Wow. Kata yang terlihat begitu bijaksana, seandainya benar. Sayangnya para (maha)siswa juga tidak buta, karena salah satu murid di kelas praktikum tersebut terlambat (dengan variasi waktu mulai 3-5 menit) sekitar 3x dan dia entah bagaimana selalu diijinkan masuk! Temanku (entah kurang beruntung atau tidak) terlambat tidak separah dia, dan sekarang sudah kena presensi. Yang satu dapat hak istimewa, yang dua (termasuk aku) tidak mendapat hak istimewa, dan dia bertanya: "Bagaimana perasaan teman-temanmu kalau kamu saya istimewakan?"

Aku tidak pernah telat sekalipun. Dan ini pertemuan terakhirku.

Dia telat berkali-kali, dan dia tidak kena presensi.

Temanku telat dua kali, satu kali diantaranya tepat datang setelah "murid istimewa itu membawa co-as sepaket dengan kunci dengan melobi sang pengajar" lalu masuk, dan kelas dikunci lagi dari luar oleh sang co-as (shit! dikunci dari luar? penjara atau lab?!) dan temanku datang selisih 20 detik.

Rupanya, pengajar ilmu ini tidak paham mengapa ada peraturan keterlambatan 0 menit. Mungkin mereka kurang cukup tua mengetahui maksud peraturan ini diadakan, atau otak mereka yang terlalu tolol memahami perbedaan menaati peraturan, dengan menggunakan otak, dengan menggunakan hati. Karena mereka tolol-tolol (tentu tidak semua, tutorial sederhana ini tidak sama sekali tidak dibuat bagi mereka yang sudah mengerti maksudnya dan tetap mengijinkan seorang murid menerima ilmu selama dia masih mau menerima ilmu) baiklah kujelaskan apa arti dan perbedaannya.

Ada beberapa pertanyaan yang harus kita pahami di sini. Yaitu:

  1. Apa itu peraturan?
  2. Siapa yang membuat peraturan?
  3. Bagi siapakah peraturan dibuat?
  4. Untuk apakah peraturan dibuat?
  5. Bagaimana peraturan dibuat?
  6. Apa bagian tubuh yang paling penting yang digunakan dalam membuat peraturan?
Dan berikut penjelasan panjangnya.

1. Apa itu peraturan?

Google mampu menjawab pertanyaan simple ini, dalam bahasa inggris. Keyword define:rule menampilkan jawab berikut ini:

  • A principle or condition that customarily governs behavior; "it was his rule to take a walk before breakfast"; "short haircuts were the regulation
  • Convention: something regarded as a normative example; "the convention of not naming the main character"; "violence is the rule not the exception"; "his formula for impressing visitors"
  • Prescribed guide for conduct or action
  • A regulation, law, guideline; A ruler; device for measuring, a straightedge, a measure; Something to keep order; To regulate, be in charge of, make decisions for, reign over
  • baca sendiri. Tinggal klik link kok...
Jawaban nomor 3 yaitu "Prescribed guide for conduct or action" berarti "suatu tuntunan ketentuan dalam melakukan sebuah aksi atau tingkah laku". Jadi itu jawabannya: suatu tuntunan dalam melakukan sebuah aksi atau tingkah laku. Jawaban no. 4 tidak perlu dijelaskan lagi: sudah terlalu lengkap. Maklum, yang itu Google mengambilnya dari Wikipedia. Sekarang pertanyaan kedua.

2. Siapa yang membuat peraturan?

Peraturan dibuat oleh mereka yang punya wewenang atau kekuasaan. Seperti tertulis di Google,

  • govern: exercise authority over; as of nations; "Who is governing the country now?"
  • decide with authority; "The King decreed that all firstborn males should be killed"
Define:rule sebenarnya memberikan jawaban berdasarkan penggunaan sehari-hari kate "Rule" bukan definisi secara komplit. Namun dari penggunaan kata-kata tersebut, kita tahu bahwa peraturan selalu dibuat oleh mereka yang berkuasa. Yang punya autoritas, dan punya hak lebih diatas orang lain. Tentu, hak untuk membuat peraturan tidak berarti melepaskan orang itu dari peraturannya sendiri. Poin ini merupakan jawaban dari pertanyaan poin ketiga.

3. Bagi siapakah peraturan dibuat?

Lebih jauh, penggunaan jauh kata rule seperti dalam Google adalah sebagai berikut:

  • a principle or condition that customarily governs behavior; "it was his rule to take a walk before breakfast"; "short haircuts were the regulation"
"Take a walk before breakfast" telah menjadi peraturan tidak tertulis, benar-benar informal, dan dipatuhi secara konsisten oleh orang yang membuatnya. Ketika dia tidak mematuhi peraturan itu, tentu (karena peraturan itu hanya belraku bagi dirinya) dia seorang yang menerima konsekuensi atau hukuman. Mungkin dia merasa tidak enak menjalani hari itu karena melewatkan kesempatan menikmati udara pagi, atau dia bahkan mencret-mencret, tidak ada yang tahu. Itu peraturannya. Dalam kasusku, peraturan keterlambatan dibuat oleh Pak Jangkung, selaku ketua STIKOMP, berlaku bagi seluruh mahasiswa dan pengajar (entah apa peraturan bagi karyawan seperti petugas lantai, atau petugas lapangan parkir, mungkin bentuknya berbeda), dan tujuannya--yang merupakan inti dari semua pembahasan konyol karena perasaan dendam ini--akan dibahas di poin berikutnya.

4. Untuk apakah peraturan dibuat?

Banyak tujuan. Nazi membuat peraturan untuk membinasakan kaum Yahudi (pengaruh film The Pianist, dah... :D) hanya karena mereka merasa Yahudi kum yang rendah. Herodes ingin mempertahankan posisi rajanya karena itu dia membuat perintah (bentuk lain peraturan) membunuh semua anak laki-laki sulung di daerah kekuasaannya. Aku membuat peraturan untuk melepas Graphic Card canggihku yang boros listrik bila tidak sedang ngegame, supaya setiap membayar listrik mamaku tidak berteriak-teriak sambil mencak-mencak.

Intinya, selalu ada keuntungan yang diambil dalam membuat peraturan. Entah keuntungan jangka pendek entah pula jangka panjang. Membayangkan sebuah perusahaan yang tidak memiliki peraturan, sudah pasti perusahaan itu hancur dalam hitungan 2 hari setelah diresmikan. Karyawan masuk terlambat, gaji bulan depan boleh diambil bulan ini, dsb, dsb. Ah, indah. Namun kacau. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu peraturan yang kita buat buat memang bisa menguntungkan, terutama bagi kita? Poin berikut membahasnya.

5. Bagaimana peraturan dibuat?

Dibalik setiap peraturan, selalu ada tujuan. Seringkali, ketika ada peraturan yang dianggap nyleneh tentu pertanyaan kita selalu sama: "Kok aneh peraturannya kek gitu? Emang buat apaan? Gak penting ah..."

Sebenarnya, mungkin saja penting bagi orang lain, namun tidak releven dengan kita. Peraturan yang tertulis bisa menjadi guide, mengarahkan kita melakukan tindakan yang umum dilakukan orang lain, agar kita tidak keluar dari sebuah sistem, yang bisa mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak. Peraturan dan sistem bagaikan satu jiwa. Kita membuat sistem , kita juga membuat peraturan. Kita merancang sistem, kita merancang peraturan. Kita membuat sistem pendidikan, kita merancang peraturan mengenai pendidikan. Dan tentu hampir pasti, bila suatu tujuan salah, salah pula sistemnya. Memalukan. Negara ini banyak yang salah.

Jadi intinya, buat sebuah tujuan, lalu buat peraturan. Mengenai tujuan itu baik atau tidak, itu urusan belakang. Poin ini hanya membahas bagaimana suatu peraturan dibuat, mengenai penilaian tentang baik tidaknya suatu tujuan dibuat, itu dibahas di poin berikut.

6. Apa bagian tubuh yang paling penting yang digunakan dalam membuat peraturan?

Pilihannya:
  • Tangan
  • Otak
  • Hati (bukan merupakan bagian tubuh sebenarnya secara logis)
  • Dengkul
  • Otak dan hati.
Setiap orang tentu punya jawaban yang berbeda. Ralat. Tidak mungkin 10 orang punya jawaban yang berbeda semua. Setiap orang mungkin punya alasan yang berbeda untuk setiap jawaban (yang mungkin berbeda, mungkin sama). Karena itu, penulis yang mencoba pintar ini akan mencoba menulis penjelasan dibalik pilihan-pilihan tersebut, sebagai tuntunan dalam memilih jawaban pembaca masing-masing.

Tangan berartidia hanya seorang sekretaris. Namun dia turut ambil bagian dalam membuat peraturan tak tertulis menjadi peraturan yang tertulis. Tak ada hati, otak, bahkan dengkul, yang digunakan dalam hal ini. Murni tangan yang bergerak untuk mengetik, murni tangan pula yang bergerak untuk memberi cap stempel. Prinsipnya, tangan adalah alat legalitas.

Otak berarti tidak ada hati ataupun dengkul yang digunakan dalam membuat peraturan, namun tangan memegang peranan penting dalam menuliskan ide-idenya yang luar biasa cemerlang dan banyak, agar tidak lupa. Tidak jarang, bila sang empunya otak cukup berkuasa, maka bukan tangannya yang dibuat menulis, namun tangan milik pesuruhnya. Tak ada unsur hati ataupun belas kasihan. Hanya ada tujuan, tujuan, dan tujuan yang bersifat menguntungkan dirinya sendiri. Itulah otak. Dia memikirkan orang lain, hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri. Otak, adalah makhluk berdarah dingin, namun mampu membenahi segala kekacauan yang terjadi dalam suatu sistem, dimana "keras" merupakan peraturan utama.

Hati adalah kebalikan dari otak. Tak ada logika. Tak ada pemikiran matang. Memikirkan perasaannya diri sendiri, yang bisa berarti egoisme, juga terus-terusan memikirkan orang lain, yang berarti kebodohan. Seperti pecinta yang sedang dilanda badai, tidak henti-hentinya membuat peraturan yang tidak masuk akal siapapun misalnya: antar jemput jam 8 pagi lalu jam 3 pagi, peraturan bahwa ceweknya tidak pernah salah, peraturan bahwa dirinya tidak pernah salah, peraturan bahwa dunia hanya milik berdua, peraturan bahwa orang lebih penting dari dirinya sendiri. Itu adalah peraturan-peraturan dimana unsur hati benar-benar mendominasi 98%, 2% bila sang pria kasmaran kehabisan uang. Nyatanya, peraturan yang dibuat dengan hati tak akan pernah berhasil. Sampai poin ini, pilihan terakhir "Otak dan Hati" terlihat begitu sempurna.

Dengkul adalah jawaban dengan sedikit peminat, yang ironisnya paling banyak pelaku di kehidupan sehari-hari kita yang kacau ini. Dengkul bisa berarti tidak menggunakan hati maupun otaknya, dengkul juga bisa berarti menggunakan dua-duanya dengan cara yang salah. Demi tujuan A dia membuat peraturan nomor 03, semua MABA wanita harus menggunakan rok (percayalah, peraturan ini ada di unviersitar teknik negri ternama di Surabaya). Bagaimana ini bisa terjadi? Simpel. Dengkul berarti dia tidak punya cukup logika dan cukup hati untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari: dia berpikiran terlalu pendek. Seperti biaya pendidikan, biaya BBM, biaya transportasi, biaya segala macam, nyaris semua peraturan di negeri ini dibuat dengan dengkul. Seperti yang kita tahu, ilmu yang setengah-tengah sudah pasti menjadi pedang jahat bagi siapapun, terutama pemiliknya. Dan itulah dengkul, jawaban yang paling tidak digemari untuk dijawab karena dianggap memalukan kalau ketahuan memilihnya, namun setiap saat kita berjalan telanjang dengan tulisan dengkul di kepala gundul kita.

Otak dan hati, pilihan bagi orang-orang yang merasa suci. Terus terang, aku juga memilihnya. Tapi karena aku selalu menjadi korban dari peraturan-peraturan yang dibuat dengan dengkul itulah, aku mau belajar dari kesalahan. Dari dengkul menjadi Otak dan Hati. Inilah adalah sebuah pilihan, dimana otak kita benar-benar diperas dalam membuat peraturan, dalam mempertahankan status kita sebagai Makhluk Sosial. Makhluk yang tak kan pernah bisa lepas dari orang lain. Ya, benar-benar diperas, terkadang kita mampu membelokkan peraturan itu demi menjaga hati kita, terkadang dengan alasan yang sama kita juga mampu mengeraskan peraturan itu. Hidup jauh lebih berharga untuk dilalui, selama dinamis. Orang akan memandang kita tidak konsisten. Orang akan memandang kita terlampau keras. Hati yang baik mampu merangsang otak untuk membuat peraturan yang baik pula.

Okelah. Hari ini aku terlambat. Okelah. Kemarin aku juga terlambat. Namun kalau pengajar itu menggunakan otaknya, dia harusnya tahu kalau murid istimewa itu sudah kena presensi sejak sekitar 3 pertemuan lalu. Dia juga tahu kalau dia sendiri adalah orang yang tidak punya hati, yang berani mengucapkan "perasaan teman-temanmu", sementara perasaanku tidak dirasakannya ketika murid istimewa itu masuk. Dia tidak memikirkan perasaan temanku yang kena presensi, karena itu aku tidak mau ngotot harus masuk, ataupun cari masalah memancing-mancing tentang si anak istimewa. Aku mencoba mengikuti sarannya, memikirkan perasaan temanku yang presensi.

Yang jelas, dia dengkul. Tidak paham alasan Pak Jangkung membuat peraturan semata-mata untuk mendidik orang-orang Indonesia yang suka terlambat ini karena memang tidak ada niatan menerima ilmu, namun tidak ditujukan bagi mereka yang menjunjung tinggi ilmu dan nilai dan sadar kalau mereka membayar mahal demi mendapatkannya.

Dan kalau Pak Jangkung tidak mengubah peraturan itu agar orang-orang sial seperti aku ini tidak terkena getahnya, berati dia juga dengkul.

Pliz dah. Jaman ini terlalu banyak kekacauan. Tidak sesimpel jaman dulu seperti kata orang-orang tua: "Kamu enak sekarang punya email. Dulu mama papa gak punya gitu-gituan nulis aja harus pake batu..." Jujur saja, teknologi ini merepotkan karena aku terpaksa melakukan banyak hal sekaligus hanya gara-gara alasan "Efisiensi waktu dengan hasil maksimal" itu tergaung dimana-mana.

Aku orang yang simpel. Tidak suka melakukan banyak hal sekaligus. One at a time.

(Posting hari ini panjang sekali yah. :P)

Tidak ada komentar: